Riantipuspaandita's Blog

May 4, 2010

MENANGANI ANAK HIPERAKTIF DI KELAS

Filed under: psikologi anak khusus — by riantipuspaandita @ 6:33 am

Oleh Iim Imandala, S.Pd

“Aduh anak ini ga bisa duduk diam di bangku, jalan-jalan terus” Demikian sedikit keluhan dari seorang guru kelas satu SD (Sekolah Dasar) yang mengeluhkan anak didiknya karena anak itu jalan-jalan terus di kelas. Akibat tidak bisa duduk diam banyak tugas-tugas belajarnya tidak selesai atau tidak dikerjakan. Teman-temannya pun menganggap ia anak nakal dan pemalas.

Perilaku yang digambarkan di atas merupakan sedikit contoh dari perilaku anak hiperaktif. Sebagai guru kita harus waspada terhadap gangguan perilaku hiperaktif itu. Mewaspadai perilaku hiperaktif ini menjadi penting karena perilaku hiperaktif jika tidak diwaspadai dan tidak ditangani dengan tepat maka akan merugikan/mengganggu lingkungan belajar juga merugikan diri anak itu sendiri.

Agar lebih waspada kita kenali terlebih dahulu karakteristik anak hiperaktif. Berdasarkan kajian dari berbagai ahli anak hiperaktif memiliki tiga karakteristik utama, yaitu (1) rentang perhatian yang kurang sehingga anak mudah lupa, tugas tidak tuntas, cenderung menghindari tugas, sulit mencurahkan perhatian terhadap tugas-tugas atau  kegiatan bermain (2) memiliki perilaku impulsif yang menyebabkan anak ini sulit diterima temannya karena sering merebut barang miliki orang lain/temannya, sering memotong pembicaraan, banyak bicara, mengganggu teman (3) selalu bergerak sulit untuk duduk diam/tenang memperhatikan, aktivitas motorik yang berlebihan, sulit mengatur kegiatan.

Berdasarkan karakteristik di atas maka jika di kelas terdapat anak hiperaktif dapat dibayangkan bahwa anak itu akan menjadi gangguan dalam proses belajar mengajar, sementara guru sendiri sudah cukup sibuk untuk memperhatikan anak-anak lain. Kesibukan guru akan semakin bertambah dengan hadirnya anak hiperaktif yang membutuhkan perhatian atau bimbingan yang lebih dari guru. Namun demikian sebagai guru yang baik tentunya akan mencari solusi terbaik untuk mengatasi gangguan perilaku hiperaktif pada anak didiknya.

Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dalam menangani anak hiperaktif. Untuk menangani perilaku hiperaktif, penanganan  harus dil;akukan secara bertahap dan fokus pada gangguan yang akan dikurangi/dihilangkan atau perilaku mana yang akan dikembangkan.

Untuk memulai langkah penanganan, kita harus mencatat perilaku mana yang akan dihilangkan dan perilaku mana yang akan dikembangkan. Dari mana kita mendapat data tentang perilaku itu, bisa kita peroleh melalui pengamatan terhadap perilaku anak di kelas selain itu dapat pula diperoleh melalui wawancara dengan orangtua anak. Setelah mencatat dan mengelompokkan perilaku yang akan dihilangkan/dikurangi dan perilaku yang akan dikembangkan, selanjutnya dapat dilakukan teknik-teknik penanganan yang penulis aplikasikan berdasarkan Sugiarmin (2005) berikut ini.

1. Menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki

Carilah faktor pemicu dari perilaku yang tidak dikehendaki itu muncul. Contoh anak tidak bisa duduk diam sering jalan-jalan di kelas. Carilah alasan mengapa anak itu tidak bisa duduk diam. Misal, alasannya karena anak membutuhkan perhatian, merasa bosan, ingin udara segar, dan sebagainya. Hilangkan atau atasi faktor pemicu tersebut.

Cara menghilangkan factor pemicu dapat dilakukan melalui teknik-teknik (a) ekstingsi, yaitu tidak merespon tingkah laku yang tidak dikehendaki sampai anak menghentikannya. Contoh, guru mengabaikan siswa yang berbicara tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu. Atau guru dan teman-temannya mengabaikan anak yang mengganggu sampai ia bosan atau sadar bahwa guru dan temannya tidak terpancing (b) satiasi, yaitu memberikan apa yang anak inginkan sebelum menuntutnya. Contohnya, memberikan perhatian sebelum menuntut perhatian, segera beralih pada kegiatan lain sebelum anak merasa bosan, anak yang suka memukul-mukul meja mintalah anak tersebut untuk terus memukul meja (c) time out. Anak dipindahkan dari tempat di mana tingkah laku yang tidak dikehendaki terjadi (d) hukuman. Cara ini jarang diterapkan karena khawatir dampak negatifnya, namun jika akan diterapkan maka perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:

–         diberlakukan untuk perilaku yang sangat membahayakan dan agar tidak berlanjut misalnya perilaku agresif,

–         jika prosedur lain tidak berhasil,

–         berikan hukuman ringan yang terbukti efektif

–         jangan menghukum dalam keadaan marah

2. Mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki

Tingkah laku yang baik tentunya harus dipertahankan dan dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Untuk melakukannya dapat dilakukan dengan cara penguatan (reinforcement). Setiap perilaku yang dikehendaki akan memperoleh penguatan berupa imbalan. Imbalan dapat berupa benda atau yang lain, misalnya pujian.

Ketika anak berbuat benar kemudian diperkuat dengan imbalan, diharapkan anak akan mempertahankannya untuk selanjutnya dapat dikembangkan. Imbalan atau hadiah sebaiknya diberikan segera setelah perilaku yang dikehendaki terjadi.

Demikian sedikit teknik-teknik penanganan anak hiperaktif di kelas. Pilihlah teknik yang paling tepat sesuai dengan perilaku yang akan ditangani. Semoga bermanfaat.

http://skilskul.multiply.com/journal/item/3

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: